Cegah Insiden, WANADRI dan Mapala UI Serukan Standardisasi di Pendidikan Alam Terbuka

Updated on 25 Jul 2014 @ 16:53 by Editorial Staff | 902 Views

Poster-Acara-Diskusi-Sispala-Mapala-UI-feat-Wanadri

JAKARTA. Tewasnya dua siswa SMA 3 Jakarta sewaktu mengikuti ekstrakulikuler pecinta alam sekolah, Sabhawana memunculkan perdebatan panjang di kalangan penggiat hingga pemangku kebijakan. Bahkan, Pemerintah melalui Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mewacanakan untuk membekukan seluruh kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam di tingkat SMA (Sispala). Ini dilakukan untuk mencegah munculnya korban lanjutan di pelaksanaan pendidikan dasar.

Sebagai pengingat, wacana membekukan seluruh kegiatan dan organisasi pencinta alam SMA se-Jakarta bukanlah yang pertama kalinya dihembuskan. Sebelumnya, di tahun 2011 silam Pemda DKI merencanakan hal tersebut seiring dengan tewasnya seorang siswi SMA 8 Jakarta dalam kegiatan serupa. Namun, rencana itu urung dilaksanakan lantaran Pemerintah melihat pendidikan berbasis alam terbuka memiliki esensi yang dinilai sangat positif. Baik itu menyoal penanaman kecintaan terhadap tanah air, lingkungan, hinggga pendidikan karakter kepada siswa.

Tentu saja, insiden ini menjadi tanggungjawab moril bagi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung WANADRI dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia, MAPALA UI selaku pionir kegiatan tersebut di Indonesia. Ketua Umum WANADRI, M. Ilham Fauzi mengatakan, dibutuhkan persiapan yang matang untuk bisa melaksanakan pendidikan berbasis alam terbuka. Adapun persiapan tersebut meliputi, pembekalan pengetahuan dan keahlian bagi para pembina serta senior yang melatih; kesiapan silabus dan sarana pendukung pendidikan; hingga matangnya prosedur penyelamatan apabila terjadi insiden di lapangan.

Ketiga hal inilah yang seharusnya menjadi poin utama dalam pendidikan dasar di alam terbuka. “Pasalnya, pendidikan alam terbuka itu sangat rentan dengan kecelakaan dan bahaya yang berasal dari luar (objective danger) maupun dari dalam diri (subjective danger). Oleh karenanya, persiapan untuk melaksanakan pedidikan harus sematang dan sesempurna mungkin,” ungkap Ilham dalam diskusi “Menakar Manfaat dan Pengelolaan Pendidikan Alam Terbuka Bagi Kalangan Pelajar”, Senin (21/7).

Mengenai wacana pembekuan, lanjut Ilham, seyogyanya Pemda DKI Jakarta tak mengambil langkah itu dalam menyikapi maraknya insiden di alam terbuka. Saat ini, ungkapnya, dibutuhkan peninjauan ulang mengenai metode hingga prosedur baku dalam standardisasi pendidikan pencinta alam tingkat SMA. Ini dimaksudkan demi menghindari jatuhnya korban serta tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelatih dan para senior.

Plus, upaya standardisasi diyakini dapat mereduksi opini negatif terkait pendidikan alam terbuka yang identik dengan kekerasan. Ketua Umum Mapala UI, Ridwan Hakim menambahkan, pihaknya pun menolak rencana pembekuan organisasi pencinta alam SMA oleh Pemda DKI Jakarta. Sebagai solusi, Mapala UI siap memberi pelatihan kepada para siswa dan senior di Sispala.

“Saya pikir insiden kekerasan yang berujung pada kematian di kegiatan Sispala itu sudah tidak boleh terulang. Dan Kami siap mengawal standardisasi,” ujar Ridwan.

Asal tahu, dalam diskusi yang juga dikemas dalam “Focus Group Discussion” (FGD) ini didapatkan ikhtisar bahwa organisasi dan pendidikan alam terbuka tingkat sekolah memiliki esensi dalam memupuk karakter dan kepemimpinan siswa, keberanian, kesadaran lingkungan hingga manajemen waktu (disiplin). Disamping itu, pendidikan alam terbuka juga diyakini mampu meningkatan keceradasan afeksi, konasi, kognisi serta emosional pada setiap kegiatan. Ini lantaran pendidikan alam terbuka bersinggungan dengan proses kerjasama, olah fisik hingga kegiatan sosial.

Dengan begitu, peserta diskusi menyayangkan jika Pemda DKI merealisasikan rencana pembekuan Sispala se-Jakarta.  Adapun Wanadri dan Mapala UI siap membantu, dalam pembuatan standardisasi pendidikan alam terbuka, demi mencegah jatuhnya korban pada saat pelaksanaan pendidikan. “Ini hasil dari diskusi Kami. Semoga bisa didengar oleh pemangku kebijakan,” pungkas Ridwan.

Acara diskusi dihadiri oleh berbagai pihak-pihak terkait, seperti anggota Sispala, alumni sispala, mahasiswa pencinta alam, perwakilan Mapala UI dan Wanadri, pemda, disdik, bahkan orangtua murid yang anaknya mengikuti kegiatan pencinta alam.

Wanadri

Wanadri merupakan organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung pelopor yang berdiri sejak 16 Mei 1964. Dengan visi menjadi organisasi penggiat alam bebas yang berbasis kemanusiaan, kemandirian, dan petualangan yang unggul di Indonesia. Secara periodik, selama dua sampai tiga tahun sekali, Wanadri mengadakan kegiatan pelatihan dan kaderisasi yang dikenal dengan “Pendidikan Dasar Wanadri”. Saat ini Wanadri memiliki sekretarian di Jl. Aceh No.155 Bandung dan GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan Jakarta

Ridwan Hakim (Ketua Mapala UI) – 085693164056

Mapala UI

Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia atau Mapala UI merupakan organisasi pencinta alam mahasiswa tertua di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 1964, Mapala UI tidak hanya bergelut di kegiatan alam akan tetapi juga mengimplementasikan Tridarma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Pengabdian Masyarakat, dan Penelitian.

M. Ilham Fauzi (Ketua Umum Wanadri) – 08154634753

Editorial Staff

Editorial Team at depokita.com