Depok Cinta Sehat

Updated on 1 Feb 2016 @ 16:09 by Editorial Staff | 255 Views

Aksi Simpatik Hari Anti TembakauPemerintah Kota Depok berkomitmen penuh terhadap sektor kesehatan sebagai bagian dari salah satu misi pembangunan 2011-2016: “Mewujudkan infrastruktur dan lingkungan yang nyaman”. Misi ini bertujuan menciptakan kondisi kota yang ramah lingkungan, bersih, hijau, dan tanpa asap rokok. Karena itu, Pemerintah Kota Depok mendukung penuh Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei.

Sejak Oktober 2012, Pemerintah Kota Depok telah menetapkan Peraturan Daerah No.16 tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum. Perda tersebut juga mengatur tertib merokok dengan menetapkan tujuh kawasan tanpa rokok. Ketujuh kawasan ini meliputi tempat umum, tempat ibadah, sarana pendidikan, tempat kerja, pelayanan kesehatan, area kegiatan anak, dan kendaraan angkutan umum.

Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini dilaksanakan dalam serangkaian kegiatan berupa apel pagi serta aksi bersama organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar, dan perwakilan komunitas di Depok. Seminar “Sinari Indonesia Tanpa Asap Rokok” menandai puncak kegiatan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Pada apel pagi yang dipimpin langsung oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Isma’il menyerukan agar aparatur pemerintah menjadi contoh yang baik. “Kebiasaan kurang bagus dalam wujud merokok ini harus segera dihentikan dengan penuh kesadaran.”

Berdasarkan Surat Edaran Walikota Depok nomor 40/874-Huk/2008, penetapan Kawasan Dilarang Merokok bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat. Selain itu, meningkatkan produktivitas kerja yang optimal, mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap rokok, menurunkan angka perokok, dan mencegah perokok pemula dan mewujudkan generasi muda yang sehat.

Dalam apel pagi tersebut, Walikota Depok menyinggung persoalan iklan dan propaganda rokok di media massa. Hal senada juga diutarakan Aris Merdeka Sirait dari Komisi Nasional Perlindungan Anak yang menjadi satu dari lima narasumber seminar hasil bkerja sama Dinas Kesehatan Kota Depok dan BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Menurut Aris, ada tiga pasar potensial rokok saat ini: anak, perempuan, dan masyarakat miskin. Iklan rokok selalu dibintangi anak muda dengan jargon anak muda. Propaganda ini menggiring anak-anak menjadi perokok pemula. “Kalau Depok akan menuju kota layak anak, maka Depok harus bebas tembakau,“ ujar Aris.

Prevalensi perokok di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat laki-laki 67,4% dan perempuan 4,5%. Rokok merupakan faktor risiko utama dari enam penyakit utama. Usia perokok pemula 5-9 tahun pun meningkat pesat dalam kurun 2001-2010, dari 0,4% menjadi 1,7%.

Selain itu, menurut Aris, iklan rokok juga melibatkan perempuan sebagai SPG-nya. Rokok pun identik sebagai cara membuat perempuan bisa  ramping. Bagi masyarakat miskin, rokok merupakan konsumsi terbesar kedua setelah padi-padian. “Rokok makin memiskinkan orang miskin,” ujar Aris. Sementara itu, pendapatan negara dari tembakau sekitar Rp55 triliun, namun biaya yang dikeluarkan akibat rokok lebih dari Rp245 triliun.

Sebagai upaya mengingatkan kembali masyarakat tentang dampak buruk rokok, keluarga besar Dinas Kesehatan Kota Depok bersama pelajar dan perwakilan komunitas melakukan aksi turun ke jalan, sambil membentangkan spanduk serta membagikan masker dan selebaran kepada masyarakat umum. “Gerakan ini sekaligus menjadi momentum bahwa Depok cinta sehat,” ungkap Sulistyo Basuki, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Kota Depok.

Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Depok – 2013

Editorial Staff

Editorial Team at depokita.com