Seminar Isu Gizi Terkini “Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Langkah Awal Keberhasilan ASI Eksklusif”

Updated on 3 Nov 2012 @ 1:19 by Editorial Staff | 1,005 Views

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menggelar seminar seputar isu-isu gizi terkini, yang kali ini mengangkat tema “Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Langkah Awal Keberhasilan ASI Eksklusif”. Seminar ini merupakan salah satu dari delapan seminar yang diselenggarakan oleh mahasiswa semester VII dari Program Studi Gizi sebagai salah satu mata kuliah yang wajib diambil. Tema ini dipilih mengingat pentingnya IMD terhadap keberlangsungan ASI Eksklusif (Fikawati dan Syafiq, 2003). Proses IMD berdampak juga pada penurunan angka kematian balita, yang banyak dipengaruhi oleh penerapan pemberian ASI. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan WHO pada tahun 2000 di enam negara berkembang, diketahui bahwa resiko kematian bayi antara usia 9 sampai 12 bulan dapat meningkat 40% pada bayi yang tidak disusui sehingga alasan untuk melakukan inisiasi menyusu dini sebagai awal suksesnya penerapan ASI eksklusif secara optimal sangatlah penting karena dengan melakukan IMD, angka kematian balita dapat berkurang sebesar 8,8%.

Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek, alumni S1 maupun D3, dan tamu undangan baik dari UI, pihak sponsor, dan media partner. “Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya Inisiasi Menyusu Dini dan berharap semoga ke depannya dapat diaplikasikan demi terwujudnya generasi penerus bangsa yang berkualitas di masa depan,” kata Ketua Panitia seminar, Qonita Rachmah.

Dokter Ekarini Aryasatiani, SpOG(K), sebagai pembicara pertama memaparkan materi mengenai IMD: Harapan dan Tantangannya. Beliau menyampaikan IMD sebagai awal dari proses menyusui ternyata memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi seperti banyaknya praktek yang justru memisahkan bayi dari makanannya yaitu air susu ibunya, sistem/ kebijakan institusi dan sudut pandang seseorang, atau ketakutan-ketakutan tertentu yang menyebabkan bayi segera dipisahkan dari ibunya dan bahkan diberi susu formula. Selain itu, dr. Eka juga menjelaskan persiapan menyusui baik sebelum kehamilan, selama kehamilan, dan selama persalinan.

Selanjutnya, panitia menghadirkan Ibu Eni Martini, seorang penulis buku dan ibu yang telah berhasil melaksanakan IMD dan ASI Eksklusif kepada putranya. Beliau berbagi pengalaman bagaimana melaksanakan IMD dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan proses menyusui. “Dalam melaksanakan IMD dan menyusui, dukungan suami sangatlah penting, “ ujarnya. Selain itu, beliau mengatakan saat melakukan IMD, rasa sakit yang ditimbulkan dari proses melahirkan menjadi tidak terasa. Sungguh luar biasa efek melakukan IMD.

Pembicara ketiga adalah dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, FABM yang juga merupakan ketua Indonesian Breastfeeding Center. Peserta sejumlah kurang lebih 260 orang ini sangat antusias dalam mengikuti pemaparan materi oleh dr. Utami ini, selain memaparkan materi dengan menarik dan interaktif. dr. Utami menjelaskan terkait manfaat IMD terhadap tumbuh kembang bayi, dimana dengan IMD yang berarti skin-to-skin contact antara ibu dan bayi dapat menambah tanggung jawab ibu serta dapat menjadikan ikatan emosional antara ibu dan anak. Selain itu, dengan berjalannya IMD, proses ASI Eksklusif dapat menjadi lebih berhasil sehingga anak memiliki kekebalan tubuh yang baik, menjadi jarang sakit, dan tumbuh kembangnya menjadi optimal. Di akhir acara, beliau juga memutarkan beberapa video tentang IMD serta menjelaskan betapa besar karunia yang Tuhan berikan melalui proses IMD ini dan berhasil membuat sebagian besar penonton meneteskan air matanya dengan pernyataan di akhir yang menyatakan bahwa “Malaikat kita di dunia adalah Ibu.”

Setelah pemaparan materi oleh ketiga pembicara, moderator, drg. Sandra Fikawati yang juga dosen Departemen Gizi FKM UI, memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan kepada para pembicara di sesi tanya jawab.