Tanah Tabu: Ketegaran dan Perlawanan

Updated on 17 May 2011 @ 21:47 by Topan Nixon | 193 Views

Dalam sebuah siklus, negeri ini merayakan—yang kata orang—pesta demokrasi atau lebih populer dengan akronim pemilu. Jalur kura-kura berasap—seperti kata Mabel—penuh warna atribut partai. Kuning, merah, hijau, biru bertarung merebut simpati. Warna-warni itu pun selalu dirindukan si Pum setiap siang yang cerah. Warna-warna yang—mungkin—terus pudar termakan waktu di tali jemuran atau pagar Mama Helda. Hingga suatu hari, Pum akhirnya mendapat jawaban kaos kuning tetangganya itu hampir beralih fungsi menjadi sekadar kain lap.

Begitulah kesukaan Pum yang membuka cerita dalam novel berjudul “Tanah Tabu”. Di bagian berikutnya ada Kwee, yang juga turut berkisah dari dinding memorinya yang masih terlalu hijau di mata Pum. Terakhir, ada Leksi, bocah manis yang selalu dihinggapi rasa ingin tahu dan kenekatan. Ketiga narator ini bertutur dalam lipatan waktu tentang hidup di belahan lain Indonesia yang belum menikmati kemerdekaan ibu pertiwi dalam arti—yang nyaris—sesungguhnya.

Nun jauh di tanah yang penuh ketabuan itu, seorang perempuan tua komen dengan perawakan fisik yang tinggi dan bongsor hidup bersama 4 anggota keluarga yang sangat dicintainya. Lisbet sang menantu, Leksi si cucu kesayangan, Pum yang segenerasi dengannya, dan Kwee yang—mungkin—seumuran dengan cucunya. Mereka mengisi sebuah kontrakan standar untuk ukuran tanah Papua.

Di balik kesederhanaan ini, Mabel—panggilan akrab Mama Anabel—membesarkan keluarganya dengan penuh ketegaran, keteguhan terhadap sebuah kemerdekaan cara pandang yang penuh nilai moral di lingkungan fisik dan sosial yang terkikis kerakusan dunia luar. Di tengah logika dan nurani yang belum diindahkan dalam keterbatasan pola pikir.

Namun, Mabel tidak larut dalam arus itu. Pengalaman hidup—kesenangan dan kegetiran—telah membekali dirinya dengan perspektif yang jelas menunjukkan bagaimana seharusnya [potensi] kekuatan seorang perempuan disetir dengan baik. Keberanian bersikap, kasih sayang yang tiada batas, semangat juang yang tak pernah surut, dan keteguhan tanpa air mata. Bahwa pengalaman tinggal bersama suami-istri Belanda di usia belianya, membuka mata dan hatinya tentang urgensi pendidikan.

Sesulit apapun situasinya, pendidikan tetap nomor satu. Alasan yang selalu coba dimengerti oleh Leksi tentang ketegasan dan semangat Mabel yang tiada lelah menyuruh cucu satu-satunya itu bersekolah. Mabel, di usia senjanya masih rela banting tulang agar Leksi tetap bisa mengenyam pendidikan. Agar sang cucu jauh lebih pintar dan bernurani dari para pendahulunya. Tak ada kata lelah. Bahkan sekadar untuk mewujudkan impiannya, agar Leksi—meski hanya sekali—bisa makan ayam, roti, susu, dan keju yang harganya sejauh bintang di angkasa. Keinginan yang akhirnya dibayar dengan penuh kepedihan. Saya kehabisan kata-kata untuk yang satu ini.

Melalui ketiga mata narator, kisah Mabel dan keluarganya mengalir dalam sebuah deskripsi yang jernih sekaligus kaya. Anda tidak akan lelah menyatronin barisan huruf dalam novel pemenang pertama sayembara Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008 ini, karena si empu-nya cerita melantunkan dengan penguasaan materi konteks yang baik. Sederhana dalam bahasa yang—kalau saya bisa bilang—manis dan lugu tapi sarat nilai, seperti wajah sang bocah cilik di kulit muka novel tersebut. Mungkin, saya pun harus mengakui, cover novel karya Anindita S. Thayf ini telah mencuri hati saya pada pandangan pertama.

“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah”. Tanah Tabu, sebuah novel yang mengingatkan kita untuk bersyukur dan pantang menyerah. Menyadari bahwa selama pengetahuan dan nurani masih ada, di mana pun bumi dipijak, selalu ada arah dan keteguhan menemani. Pun kadang manusia tak lebih baik dari seekor hewan. Tak lebih bijak dan setia dari Pum dan Kwee yang hanya dua ekor anjing dari generasi yang berbeda.